Overhead Crane Adalah: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Cara Kerjanya

Diperbarui tanggal 28/08/2026

Overhead crane adalah alat angkat yang digunakan untuk mengangkat, menurunkan, dan memindahkan material berat di dalam suatu area kerja. Alat ini biasanya bergerak di atas jalur khusus yang dipasang di bagian atas bangunan, sehingga proses mengangkut material tidak memakan banyak ruang di lantai.

Adanya overhead crane biasanya diperlukan bagi industri yang menangani mesin, baja, material produksi, cetakan, komponen kendaraan, dan berbagai barang berukuran besar. Alat ini memungkinkan material dipindahkan secara vertikal sekaligus horizontal tanpa harus terus-menerus menggunakan forklift atau tenaga manusia.

Overhead crane sendiri terdiri dari struktur jembatan, hoist, trolley, end carriage, runway, serta sistem kontrol. Seluruh bagian tersebut bekerja bersama untuk mengangkat beban dari satu titik, memindahkannya melintasi area kerja, kemudian menurunkannya pada posisi yang ditentukan.

Pemilihan overhead crane tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan kapasitas angkat. Panjang bentang, tinggi pengangkatan, kondisi bangunan, intensitas penggunaan, karakteristik material, dan lingkungan kerja juga perlu diperhitungkan. Karena itu, perusahaan perlu memahami prinsip dasarnya yang akan kita bahas di bawah ini sebelum menentukan sistem crane yang akan digunakan.

Overhead Crane adalah Alat Angkat Penting di Dunia Industri

Seperti yang sudah kita singgung sebelumnya bahwa overhead crane merupakan mesin pengangkat dengan mekanisme hoist yang terpasang pada struktur jembatan bergerak. Struktur tersebut berjalan di sepanjang runway yang berada di atas area kerja. Berdasarkan definisi OSHA, overhead crane memiliki jembatan bergerak yang membawa mekanisme pengangkat tetap atau bergerak dan berjalan pada struktur runway permanen di bagian atas.

Peralatan ini dirancang untuk melakukan dua pekerjaan utama, yaitu mengangkat atau menurunkan beban dan memindahkannya secara horizontal. Gerak vertikal dilakukan oleh hoist, sedangkan gerak horizontal dihasilkan oleh trolley dan jembatan crane.

Tidak semua overhead crane memiliki desain yang sama. Konfigurasinya dapat disesuaikan dengan kapasitas, panjang area kerja, jenis bangunan, dan kebutuhan produksi. Sebuah workshop mungkin hanya membutuhkan crane berkapasitas ringan, sedangkan pabrik baja dapat membutuhkan sistem berkapasitas besar dengan tingkat penggunaan yang tinggi.

Baca juga: Berapa Berat Overhead Crane?

Mengapa disebut overhead crane?

Apakah ada yang tahu mengapa disebut overhead crane? Kenapa bukan top crane atau ceiling crane? Ternyata istilah ‘overhead’ memang berkaitan dengan cara crane ini bekerja. Main girder, trolley, hoist, dan sebagian besar jalur geraknya ditempatkan pada ketinggian tertentu sehingga lantai di bawahnya tetap dapat digunakan untuk produksi, penyimpanan, atau aktivitas operasional lainnya.

Jembatan crane bergerak mengikuti runway yang dipasang memanjang. Pada saat bersamaan, trolley dapat bergerak melintang di sepanjang girder. Kombinasi kedua gerakan tersebut membuat hook mampu menjangkau sebagian besar area berbentuk persegi panjang di bawah sistem crane. Penempatan pada bagian atas juga membedakan overhead crane dari mobile crane yang berpindah menggunakan kendaraan atau crawler. Overhead crane bekerja dalam area yang sudah ditentukan oleh panjang runway, span, serta jangkauan trolley.

Perbedaan overhead crane dengan alat angkat biasa

Overhead crane memiliki wilayah kerja yang lebih luas daripada alat pengangkat yang hanya bergerak secara vertikal. Chain block manual, misalnya, dapat mengangkat dan menurunkan beban pada satu titik, tetapi tidak selalu mempunyai jalur horizontal atau ke samping. Forklift dapat memindahkan barang dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi membutuhkan lantai yang lega atau luas. Pengoperasiannya juga harus mempertimbangkan lebar lorong, kondisi permukaan jalan, radius putar, dan keberadaan pekerja di sekitarnya.

Sebaliknya, overhead crane memanfaatkan ruang di atas bangunan. Beban dapat diangkat, dipindahkan melintang, lalu digerakkan memanjang tanpa membuat unit crane memenuhi area lantai. Walaupun demikian, overhead crane tetap membutuhkan runway, struktur pendukung, sumber listrik, ruang bebas, dan prosedur operasi yang sesuai.

Fungsi Overhead Crane dalam Kegiatan Industri

Setelah mengetahui apa itu overhead crane dan membayangkan bagaimana alat itu bergerak dan bekerja, sekarang kita masuk ke fungsi lain dari alat ini selain mengangkat dan memindahkan material berat. Berikut beberapa pekerjaan yang bisa dilakukan dengan bantuan overhead crane.  

1. Membantu Proses Assembly

Overhead crane juga sering digunakan dalam proses perakitan komponen berukuran besar. Bayangkan ketika sebuah mesin memiliki komponen dengan berat beberapa ton. Komponen tersebut bukan hanya perlu diangkat, tetapi juga harus ditempatkan pada posisi yang tepat agar dapat dipasang. Crane memungkinkan operator menaikkan, menggeser, dan menurunkan komponen secara bertahap. Untuk pekerjaan yang membutuhkan presisi lebih tinggi, kecepatan gerakan crane juga dapat dibuat lebih lambat agar positioning lebih mudah dikontrol.

2. Membantu Pekerjaan Maintenance Mesin

Tidak semua overhead crane digunakan terus-menerus untuk produksi. Di beberapa fasilitas, crane justru dipasang khusus untuk membantu maintenance. Contohnya ketika motor, gearbox, pompa, atau bagian mesin produksi perlu dilepas untuk diperbaiki. Berat komponen seperti ini sering kali membuat proses pembongkaran sulit dilakukan hanya menggunakan tenaga manusia. Overhead crane dapat mengangkat komponen dari posisinya, memindahkannya menuju area maintenance, kemudian memasangnya kembali setelah pekerjaan selesai.

3. Memindahkan Material di Gudang

Pada gudang yang menyimpan material berat, overhead crane dapat digunakan untuk mengambil, menyusun, dan memindahkan barang. Material seperti steel plate, beam, coil, pipa, maupun mesin membutuhkan metode handling yang berbeda dari barang ringan yang cukup dipindahkan menggunakan hand pallet.

4. Membantu Loading dan Unloading

Overhead crane juga dapat membantu proses memasukkan atau mengeluarkan material dari kendaraan pada area tertentu. Misalnya, material dari truk diangkat kemudian dipindahkan menuju area penyimpanan atau produksi. Sebaliknya, produk yang telah selesai dapat dipindahkan dari area kerja menuju titik loading. Penggunaan crane untuk pekerjaan ini tetap perlu mempertimbangkan jangkauan hook, posisi kendaraan, kapasitas crane, serta ruang bebas di sekitar area pengangkatan.

4. Menangani Material dengan Bentuk Khusus

Tidak semua beban dapat diangkat dengan cara yang sama karena bentuknya bisa berbeda-beda.  Material panjang, berbentuk silinder, memiliki titik berat tidak seimbang, atau berukuran sangat besar tentunya membutuhkan lifting attachment tambahan seperti spreader beam, clamp, magnet, atau perangkat pengangkat khusus.

Karena itu, overhead crane cukup fleksibel untuk digunakan pada berbagai industri. Sistem pengangkatannya dapat disesuaikan dengan karakter material yang memang perlu ditangani. Jadi pada dasarnya, fungsi overhead crane sangat bergantung pada kebutuhan setiap industri yang membutuhkannya. Ada crane yang hanya digunakan sesekali untuk maintenance, ada pula yang menjadi bagian penting dari proses produksi dan bekerja setiap hari. Itulah mengapa sebelum menentukan jenis maupun kapasitas crane, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang akan diangkat, dari mana material tersebut diambil, dan ke mana material harus dipindahkan.

Bagaimana Cara Kerja Overhead Crane?

Memahami cara kerja overhead crane membantu Anda mengoperasikan alat ini dengan lebih optimal. Sistem kerja derek overhead terdiri dari beberapa komponen yang saling terintegrasi. Setiap bagian memiliki fungsi khusus dalam proses pengangkatan dan pemindahan beban.

1. Gerakan mengangkat atau hoisting

Overhead Crane adalah

Hoisting adalah gerakan untuk menaikkan atau menurunkan beban. Ketika perintah diberikan, motor hoist menggerakkan gearbox dan drum. Wire rope akan tergulung atau terurai sehingga hook block bergerak naik atau turun. Pada unit yang menggunakan electric chain hoist, proses serupa terjadi melalui pergerakan load chain. Pemilihan wire rope hoist atau chain hoist bergantung pada kapasitas, tinggi angkat, kecepatan, dan karakteristik pekerjaan. Sistem rem membantu menahan beban saat gerakan dihentikan. OSHA mensyaratkan unit hoisting independen memiliki setidaknya satu rem yang dapat mengatur dirinya sendiri pada motor atau bagian dari rangkaian gear. Operator tidak boleh menggunakan gerakan hoisting untuk menarik beban secara menyamping. Posisi hook idealnya berada di atas titik berat beban agar wire rope atau chain tetap bekerja secara vertikal.

2. Gerakan trolley atau cross travel

Trolley merupakan unit yang membawa mekanisme hoist dan bergerak di sepanjang bridge. Perjalanan ini disebut cross travel karena arahnya melintang terhadap runway. Pada single girder crane, hoist dapat berjalan di bagian bawah girder. Pada double girder crane, trolley umumnya bergerak di atas dua girder. Konfigurasi tersebut memengaruhi headroom, posisi hook, dan distribusi beban. Cross travel digunakan untuk mengatur posisi beban dari satu sisi bangunan ke sisi lainnya. Kecepatan gerakan perlu disesuaikan agar beban tidak mengayun secara berlebihan, terutama ketika material yang digerakkan atau dipindahkan berbentuk panjang atau titik beratnya tidak seimbang.

Baca lebih lanjut tentang: Fungsi Trolley Hoist Crane

3. Gerakan bridge atau long travel

Long travel adalah pergerakan seluruh bridge crane di sepanjang runway. End carriage yang berada di kedua ujung girder dilengkapi dengan wheel dan drive mechanism untuk menggerakkan crane ke arah memanjang. OSHA mendefinisikan bridge travel sebagai gerakan crane yang sejajar dengan runway. Sementara itu, trolley travel bergerak tegak lurus terhadap runway. Ketiga gerakan dapat digunakan secara bertahap untuk memindahkan beban secara terkendali. Pada crane dengan sistem kontrol yang lebih modern, kecepatan hoisting dan travel dapat diatur sehingga pergerakan beban yang dibawa lebih stabil dan mudah dikendalikan. 

Selain hoisting, cross travel, dan long travel, overhead crane juga dapat memiliki beberapa fungsi gerak tambahan yang membantu operator saat menempatkan, menahan, atau mengendalikan beban. Fitur ini tidak selalu tersedia pada setiap crane karena sangat bergantung pada desain, sistem kontrol, dan jenis attachment yang digunakan.

4. Positioning

Positioning adalah proses mengatur posisi beban agar berada tepat pada titik yang dibutuhkan. Fungsi ini banyak digunakan pada pekerjaan assembly, pemasangan mesin, atau penempatan komponen yang membutuhkan ketelitian. Operator biasanya mengombinasikan gerakan hoisting, trolley, dan bridge dalam kecepatan rendah agar beban dapat diarahkan secara bertahap.

5. Inching atau Slow Speed Movement

Inching merupakan gerakan crane dalam jarak sangat pendek dan kecepatan rendah. Fitur ini membantu ketika operator perlu menggeser atau menurunkan beban sedikit demi sedikit. Gerakan seperti ini berguna saat komponen harus disejajarkan dengan baut, dudukan mesin, mould, atau titik pemasangan tertentu.

6. Load Holding

Setelah beban mencapai ketinggian yang dibutuhkan, sistem brake pada hoist dapat mempertahankan posisi hook agar tidak bergerak turun. Fungsi load holding penting ketika operator perlu menghentikan sementara proses pengangkatan sebelum melanjutkan pemindahan atau positioning. Meski demikian, beban tidak sebaiknya dibiarkan tergantung tanpa pengawasan lebih lama dari yang diperlukan.

7. Sway Control

Ketika trolley atau bridge bergerak, beban yang tergantung dapat mengalami ayunan. Pada crane tertentu, sistem kontrol dapat membantu mengurangi gerakan tersebut. Sway control bekerja dengan mengatur akselerasi dan deselerasi agar perpindahan berlangsung lebih halus. Fitur ini berguna untuk beban panjang, berat, atau proses yang membutuhkan positioning lebih presisi.

8. Rotating atau Turning Load

Beberapa overhead crane dapat dilengkapi rotating hook atau attachment khusus yang memungkinkan beban diputar. Fungsi ini dibutuhkan ketika material tidak hanya harus dipindahkan, tetapi juga perlu diubah orientasinya sebelum ditempatkan. Contohnya dapat ditemukan pada penanganan coil, komponen mesin besar, struktur baja, atau material fabrikasi tertentu.

9. Operasi Lifting Attachment

Overhead crane juga dapat bekerja dengan attachment khusus seperti magnet, grab bucket, clamp, atau spreader beam. Attachment tersebut menambahkan fungsi yang lebih spesifik sesuai jenis material. Magnet dapat membantu mengangkat baja, grab bucket digunakan untuk material curah, sedangkan clamp dapat digunakan untuk memegang material dengan bentuk tertentu. Jadi, pada dasarnya overhead crane hanya memiliki tiga gerakan utama, tetapi kemampuan operasionalnya dapat dikembangkan melalui sistem kontrol dan attachment tambahan sesuai kebutuhan industri.

Komponen Overhead Crane yang Perlu Dipahami

Komponen overhead crane terdiri dari berbagai bagian yang saling terhubung, mulai dari girder, hoist, trolley, end carriage, hingga sistem kontrol dan perangkat keselamatan. Setiap komponen memiliki fungsi khusus dalam menopang, mengangkat, menggerakkan, serta menjaga beban tetap terkendali selama proses operasional.

1. Girder

Girder merupakan struktur utama yang membentuk bridge crane. Bagian ini menopang hoist dan trolley sekaligus meneruskan beban menuju end carriage. Desain girder dapat berupa profile girder atau box girder, tergantung kapasitas, span, kebutuhan kekakuan, dan perhitungan teknik. Crane dapat menggunakan satu girder atau dua girder. Girder tidak hanya menahan berat beban yang diangkat. Komponen tersebut juga menerima berat crane, gaya dinamis, serta pengaruh gerakan trolley.

2. Hoist dan trolley

Hoist menghasilkan gerakan vertikal untuk menaikkan dan menurunkan beban. Mekanismenya dapat menggunakan wire rope atau load chain sesuai rancangan. Trolley membawa hoist dan bergerak di sepanjang girder. OSHA mendefinisikan trolley sebagai unit yang berjalan pada bridge rail serta membawa mekanisme pengangkat. Hoist dan trolley harus dipilih berdasarkan kapasitas, tinggi angkat, kecepatan, duty class, serta jenis material yang ditangani.

3. End carriage

End carriage berada pada kedua ujung bridge. Komponen ini menopang girder dan memungkinkan seluruh crane bergerak di sepanjang runway. Di dalamnya terdapat frame, wheel, axle, bearing, serta travel drive sesuai desain crane. Kondisi wheel dan keselarasan runway memengaruhi kelancaran long travel. Masalah alignment dapat menyebabkan keausan wheel flange, rail, bearing, atau komponen penggerak. Oleh sebab itu, pemasangan dan pemeriksaan geometri harus dilakukan secara tepat.

4. Runway dan crane rail

Runway merupakan sistem jalur tempat bridge crane bergerak. OSHA menjelaskan runway sebagai rangkaian rail, beam, girder, bracket, dan framework yang menjadi jalur perjalanan crane atau trolley. Crane rail menjadi permukaan kontak bagi wheel pada top running crane. Posisi, elevasi, jarak, dan kelurusan rail perlu dijaga agar kedua sisi crane bergerak secara seimbang. Panjang runway menentukan jangkauan long travel, sedangkan jarak antar runway rail berhubungan dengan span crane.

5. Sistem kontrol dan kelistrikan

Sistem kelistrikan menyediakan daya bagi motor hoist, trolley, dan bridge. Sementara itu, sistem kontrol menerjemahkan perintah operator menjadi gerakan tertentu. Perangkatnya dapat mencakup panel utama, contactor, relay, inverter, limit switch, emergency stop, overload protection, pendant, dan radio remote control. Festoon atau conductor bar digunakan untuk menyalurkan daya dan sinyal ke bagian crane yang bergerak. Sistem harus dilengkapi proteksi yang sesuai agar gangguan listrik tidak langsung menimbulkan gerakan yang tidak terkendali.

Baca juga: Bagian pada Crane Hoist Lainnya yang Perlu Dipahami

Jenis-Jenis Overhead Crane

Overhead crane hadir dalam berbagai jenis yang dirancang untuk kebutuhan industri yang berbeda-beda. Setiap tipe memiliki karakteristik, keunggulan, dan kegunaan yang spesifik sesuai beban kerja dan kondisi operasional.

1. Single Girder Overhead Crane

Overhead Crane adalah

Single girder overhead crane menggunakan satu girder utama sebagai bridge. Hoist biasanya dipasang pada trolley atau mekanisme yang berjalan di bagian bawah girder. Desainnya relatif ringan sehingga beban yang diteruskan ke runway dan struktur bangunan dapat lebih rendah. Sistem ini banyak digunakan untuk workshop, gudang, jalur perakitan, dan kebutuhan pengangkatan ringan sampai menengah. Single girder juga dapat tersedia dalam konfigurasi top running maupun under running. Pemilihannya bergantung pada bentuk bangunan, ruang bebas, kapasitas, dan target jangkauan hook.

2. Double Girder Overhead Crane

Double girder overhead crane mempunyai dua girder utama yang berjalan sejajar. Trolley dan hoisting mechanism umumnya berada di atas struktur tersebut. Konfigurasi ini dapat digunakan untuk kebutuhan kapasitas tinggi, span panjang, lifting height yang lebih optimal, dan operasional dengan intensitas berat. Double girder juga memungkinkan penambahan walkway atau platform untuk mendukung akses pemeriksaan dan perawatan pada desain tertentu. Double girder tidak selalu menjadi pilihan terbaik untuk semua fasilitas. Bobot struktur, investasi, kebutuhan runway, dan kekuatan bangunan harus ikut diperhitungkan sebelum sistem ditentukan.

3. Overhead Crane Manual dan Elektrik

Top running overhead crane bergerak di atas rail yang dipasang pada runway beam. Wheel pada end carriage berada di atas rail sehingga beban crane diteruskan ke struktur pendukung di bawahnya. Sistem top running dapat digunakan pada single maupun double girder. Konfigurasi ini biasanya ditemukan pada fasilitas yang membutuhkan kapasitas besar, span panjang, atau penggunaan intensif. Runway dapat ditopang oleh kolom bangunan maupun struktur baja mandiri. Desain akhirnya harus mempertimbangkan gaya vertikal, horizontal, akselerasi, pengereman, dan beban lain yang bekerja pada struktur.

4. Under running overhead crane

Under running atau underhung crane bergerak pada flange bagian bawah runway beam. Crane seolah tergantung di bawah jalur yang terhubung dengan struktur atap atau rangka pendukung. Sistem ini dapat membantu memanfaatkan area lantai karena tidak selalu memerlukan kolom runway terpisah. Under running juga dapat digunakan untuk melayani bagian tertentu dari bangunan atau memperluas jangkauan lateral melalui desain overhang yang sesuai.

5. Electric overhead crane

Electric overhead crane menggunakan tenaga listrik untuk menggerakkan hoist, trolley, dan bridge. Daya listrik dapat disalurkan melalui conductor bar, festoon cable, atau sistem lain yang sesuai dengan desain crane. Perintah operasi diberikan melalui pendant, remote control, cabin, atau sistem kontrol otomatis. Komponen seperti contactor, relay, inverter, limit switch, motor, dan panel kontrol mengatur respons setiap gerakan. Crane elektrik memungkinkan kecepatan dan pola gerak disesuaikan dengan kebutuhan produksi. Namun, sistem kelistrikannya harus dirancang untuk lingkungan kerja yang dihadapi, termasuk debu, kelembapan, panas, bahan korosif, atau area dengan klasifikasi khusus.

Baca juga: Tipe Overhead Crane Tavol yang Ready di PT Jaya Karya Makassar

Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Menggunakan Overhead Crane

Menggunakan overhead crane tidak bisa dilakukan sembarangan karena menyangkut keselamatan kerja dan efisiensi operasional. Ada beberapa faktor penting yang harus dipastikan terlebih dahulu sebelum alat ini dioperasikan di lapangan. 

1. Kapasitas angkat

Kapasitas harus ditentukan berdasarkan beban terberat yang benar-benar akan diangkat. Berat sling, lifting beam, clamp, magnet, atau perlengkapan lain juga perlu dimasukkan dalam perhitungan.Memilih kapasitas yang terlalu kecil meningkatkan risiko overload. Sebaliknya, kapasitas yang jauh lebih besar dari kebutuhan dapat membuat investasi dan struktur pendukung menjadi tidak efisien. Selain kapasitas maksimum, karakteristik beban juga harus diketahui. Beban panjang, cair, panas, mudah bergeser, atau memiliki titik berat tidak seimbang membutuhkan pendekatan berbeda.

2. Panjang bentang atau span

Span adalah jarak horizontal dari pusat satu runway rail ke pusat runway rail lainnya. Ukuran ini menentukan panjang bridge crane dan memengaruhi desain girder. Semakin panjang span, semakin besar tuntutan terhadap kekakuan struktur. Engineer perlu memperhitungkan defleksi, distribusi wheel load, berat crane, dan gaya dinamis. Pengukuran span harus dilakukan berdasarkan kondisi aktual bangunan. Mengandalkan gambar lama tanpa verifikasi dapat menimbulkan masalah ketika proses fabrikasi atau instalasi.

3. Tinggi pengangkatan

Lifting height menunjukkan jarak vertikal yang dapat ditempuh hook. Kebutuhannya dipengaruhi tinggi bangunan, posisi runway, dimensi beban, lokasi mesin, dan titik penempatan. Headroom juga perlu diperhatikan. Sistem dengan dimensi hoist yang lebih ringkas dapat memberikan posisi hook lebih tinggi pada bangunan dengan ruang terbatas. Tinggi angkat yang terlalu pendek akan menghambat operasional, sedangkan spesifikasi berlebihan dapat meningkatkan panjang wire rope, waktu gerak, dan kebutuhan desain lainnya.

4. Kondisi bangunan

Struktur bangunan harus mampu menerima beban dari crane dan aktivitas pengangkatan. Beban tersebut tidak hanya berupa kapasitas material, tetapi juga berat crane, trolley, hoist, gaya akselerasi, pengereman, dan efek dinamis. Pemeriksaan dapat meliputi kolom, runway beam, sambungan, rail, fondasi, clearance, dan ruang maintenance. Bangunan yang tidak dirancang untuk crane mungkin memerlukan penguatan atau struktur runway mandiri. Posisi mesin, pipa, lampu, atap, sprinkler, dan utilitas lain juga perlu diperiksa agar tidak mengganggu jalur crane.

5. Frekuensi pemakaian

Dua crane dengan kapasitas sama belum tentu memerlukan spesifikasi yang sama. Crane yang hanya digunakan beberapa kali sehari mempunyai kebutuhan berbeda dari crane yang beroperasi terus-menerus dalam beberapa shift. Frekuensi penggunaan, rata-rata beban, jumlah siklus, kecepatan, dan kondisi lingkungan memengaruhi penentuan duty class. Kesalahan memilih kelas kerja dapat mempercepat keausan motor, brake, gearbox, wire rope, wheel, dan komponen lain. Sebaiknya menyampaikan pola operasional kepada supplier atau engineer. Informasi tersebut membantu menentukan desain yang lebih sesuai untuk kebutuhan jangka panjang.

Jika kebutuhan overhead crane sudah mulai mengarah pada kapasitas, span, atau konfigurasi tertentu, tahap berikutnya adalah mendiskusikannya dengan penyedia yang memahami kebutuhan industri. PT Jaya Karya Makassar telah berpengalaman sejak 2008 dan menyediakan berbagai solusi lifting, mulai dari overhead crane, gantry crane, electric hoist, hingga kebutuhan material handling lainnya.

Sebagai distributor resmi Tavol, PT Jaya Karya Makassar juga menyediakan dukungan mulai dari pemilihan spesifikasi, instalasi, hingga commissioning. Pilihan kapasitas crane yang tersedia antara lain 3–200 ton sehingga  dapat disesuaikan dengan kebutuhan workshop, manufaktur, pertambangan, pembangkit, maupun industri heavy duty.

Untuk membantu menentukan jenis crane, kapasitas, span, lifting height, dan sistem kontrol yang sesuai dengan kondisi fasilitas, konsultasikan kebutuhan Anda bersama PT Jaya Karya Makassar.

Related Post

Jual Double Girder Overhead Crane Heavy Duty

Untuk kebutuhan lifting dengan beban besar, crane bukan sekadar alat angkat yang harus mampu menahan tonase tertentu. Kondisi bangunan, bentangan runway, tinggi angkat, pola kerja, dan sistem...

Perhatikan Hal ini pada Custom Made Overhead Crane

Memesan custom made overhead crane bukan sekadar menentukan berapa ton beban yang ingin diangkat. Crane akan menjadi bagian dari aktivitas kerja di dalam fasilitas, sehingga desainnya perlu mengikuti...

Tugas Operator Cabin Overhead Crane

Operator cabin overhead crane tidak hanya bertugas menggerakkan crane untuk memindahkan beban. Karena pengoperasiannya dilakukan dari kabin yang berada pada bridge atau trolley, operator harus mampu...