
Girder hoist crane merupakan sistem crane yang menggunakan satu atau dua main girder sebagai struktur bridge tempat hoist atau trolley melakukan pergerakan untuk mengangkat dan memindahkan beban. Girder menjadi bagian struktural utama yang menerima beban dari hoisting system dan meneruskannya menuju end carriage, wheel, runway, hingga supporting structure. Karena itu, pemilihan girder tidak cukup hanya berdasarkan kapasitas crane.
Pada overhead crane, girder bekerja bersama hoist, trolley, end carriage, motor travel, electrical system, dan runway sebagai satu kesatuan. Crane dengan kapasitas 5 ton, misalnya, dapat membutuhkan desain girder yang berbeda jika span, lifting height, working duty, atau trolley configuration-nya berbeda. Dua crane dengan kapasitas sama belum tentu mempunyai ukuran, wheel load, maupun structural requirement yang sama.
Sebagai distributor resmi merek Tavol, PT Jaya Karya Makassar menghadirkan beragam pilihan hoist crane dengan girder berkualitas tinggi. Kami tidak hanya menjual produk, tapi juga memberikan solusi menyeluruh melalui layanan pemasangan, perawatan, sampai dukungan teknis profesional. Dengan pengalaman dan reputasi baik selama bertahun-tahun, PT Jaya Karya Makassar siap menjadi mitra terpercaya perusahaan Anda.
Table of Contents
ToggleApa Itu Girder Hoist Crane?
Girder hoist crane adalah salah satu komponen dari crane yang berbentuk balok baja struktural dan digunakan sebagai lintasan utama bagi pergerakan hoist. Girder ini dapat berbentuk single girder maupun double girder, tergantung kapasitas beban dan panjang bentang yang dibutuhkan.
Pada single girder, hoist biasanya berjalan di bawah balok menggunakan tipe under-running hoist, sedangkan pada double girder ditempatkan di atas balok, sehingga mampu menahan kapasitas lebih besar dan menyediakan ketinggian angkat tambahan.
Dari sisi konstruksi, girder pada derek hoist dirancang mengikuti standar internasional, seperti FEM (Federation Europeenne de la Manutention) atau CMAA (Crane Manufacturers Association of America). Hal ini memastikan perhitungan kapasitas beban, faktor keamanan, dan siklus kerja atau duty class sesuai kebutuhan industri.
Misalnya, crane dengan duty class M5 cocok untuk operasi harian dengan beban sedang, sementara M7 digunakan untuk beban berat dengan frekuensi tinggi. Dengan desain teknis tersebut, girder pada derek hoist mampu bekerja secara presisi, aman, dan efisien di lingkungan industri modern.
Baca juga: Perbedaan Single Girder dan Double Girder
Apa Fungsi Girder dalam Sistem Hoist Crane?
Fungsi utama girder adalah membentuk bridge sekaligus menopang hoist atau trolley selama crane bekerja. Ketika hook mengangkat material, load dari hoisting system diteruskan menuju main girder sebelum masuk ke end carriage dan crane wheel. Girder karena itu menjadi salah satu jalur utama transfer load pada overhead crane.
Selain menahan load, girder juga menyediakan lintasan untuk pergerakan hoist atau trolley. Pada single girder configuration tertentu, electric hoist bergerak pada bagian bawah girder. Pada double girder, trolley umumnya bergerak menggunakan rail yang berada pada atau di atas dua main girder sesuai desain.
Girder juga perlu mempunyai stiffness yang cukup agar deformasi selama crane bekerja tetap sesuai design requirement. Struktur yang hanya memenuhi strength tetapi memiliki deflection berlebihan tetap dapat menimbulkan masalah operasional. Karena itu, strength dan stiffness sama-sama menjadi bagian dari structural engineering crane.
Komponen Utama Girder
Dalam sistem girder pada derek hoist, setiap komponen memiliki peran penting yang saling mendukung untuk memastikan alat dapat beroperasi secara optimal. Mulai dari struktur baja utama, mekanisme pengangkatan, sampai sistem kontrol listrik, semuanya dirancang dengan standar teknis internasional agar aman dan efisien.
Pemahaman mengenai komponen utama ini sangat penting, terutama bagi perusahaan yang ingin memastikan crane bekerja secara maksimal sesuai kebutuhan operasionalnya.
- Girder (Balok utama) – Merupakan struktur baja yang menjadi jalur utama pergerakan hoist dan trolley. Terdapat dua jenis, yaitu single girder untuk kapasitas menengah dan double girder untuk kapasitas besar dengan bentang lebih panjang. Materialnya menggunakan baja karbon berkekuatan tinggi agar tahan terhadap beban dinamis dan statis.
- End carriage – Rangka penopang di ujung girder yang dilengkapi roda baja untuk bergerak di atas rel. Komponen ini biasanya dipasangi motor penggerak dengan sistem transmisi roda gigi agar crane dapat bergerak maju-mundur sepanjang lintasan.
- Hoist mechanism – Inti dari girder hoist crane yang bertugas mengangkat dan menurunkan beban. Mekanisme ini terdiri atas motor listrik, gearbox, drum wire rope atau rantai (chain), dan hook. Motor dilengkapi sistem pengereman elektromagnetik untuk menjaga beban tetap aman saat berhenti.
- Trolley system – Berfungsi membawa hoist bergerak lateral di sepanjang girder. Dengan sistem roda dan rel presisi, pergerakan trolley tetap stabil bahkan saat mengangkat beban maksimal. Pada double girder, trolley biasanya ditempatkan di atas balok untuk memaksimalkan angkat.
- Electrical control system – Mencakup panel listrik, inverter, dan remote control atau pendant control. Inverter digunakan untuk mengatur kecepatan motor agar pergerakan lebih halus, mengurangi hentakan, serta memperpanjang umur pakai komponen mekanik.
- Safety devices – Untuk menjamin keselamatan, girder pada derek hoist dilengkapi limit switch, overload protection, emergency stop, dan anti collision system. Perangkat ini memastikan crane berhenti otomatis saat mencapai batas aman atau ketika terjadi beban berlebih.
Baca juga: Pentingnya Kabel pada Crane dengan Sistem Hoist
Bagaimana Girder Hoist Crane Bekerja?
Cara kerja overhead crane dapat dipahami melalui tiga gerakan utama, yaitu hoisting, cross travel, dan long travel. Ketiga gerakan tersebut memungkinkan hook berpindah secara vertikal maupun horizontal di dalam coverage area crane. Girder menjadi struktur utama yang menghubungkan movement tersebut.
1. Hoisting
Hoisting adalah gerakan hook naik dan turun menggunakan electric hoist atau hoisting mechanism. Motor, brake, gearbox, drum, wire rope, dan hook block bekerja bersama untuk menghasilkan gerakan lifting. Capacity crane menentukan maximum rated load yang dapat ditangani sesuai configuration.
Berat material bukan satu-satunya load yang perlu diperhatikan. Sling, lifting beam, spreader, maupun attachment lain yang ikut tergantung pada hook juga menjadi bagian dari suspended load. Penjelasan mengenai hal ini tersedia pada Overhead Crane Lifting Load.
2. Cross Travel
Cross travel merupakan gerakan hoist atau trolley melintasi main girder. Pada single girder, hoist umumnya bergerak pada jalur di bagian bawah girder sesuai configuration. Pada double girder, trolley dapat bergerak menggunakan rail pada dua main girder.
Movement ini menentukan seberapa jauh hook dapat berpindah dari satu sisi span ke sisi lainnya. Namun hook tidak selalu dapat mencapai posisi tepat di bawah wall atau runway karena terdapat physical dimension dari hoist dan trolley. Parameter inilah yang berkaitan dengan hook approach.
3. Long Travel
Long travel adalah gerakan seluruh bridge sepanjang runway. Main girder dan end carriage bergerak bersama menggunakan crane wheel yang berjalan pada runway rail. Dengan kombinasi long travel dan cross travel, hook dapat menjangkau area kerja yang relatif luas.
Secara sederhana, aliran load dapat digambarkan sebagai:
Load → Hook → Hoist/Trolley → Main Girder → End Carriage → Crane Wheel → Runway → Supporting Structure
Urutan tersebut menjelaskan mengapa girder tidak bisa dianalisis tanpa mempertimbangkan runway dan struktur bangunan. Setiap bagian menerima dan meneruskan reaction dari sistem di atasnya.
Komponen Utama Girder Hoist Crane
Sistem girder hoist crane terdiri dari beberapa komponen yang bekerja bersama. Specification setiap bagian dapat berbeda tergantung kapasitas, span, duty, environment, serta model crane. Karena itu, daftar komponen sebaiknya dipahami berdasarkan fungsi, bukan hanya sebagai checklist.
Main Girder
Main girder merupakan struktur utama bridge crane. Komponen ini menerima load dari hoist atau trolley dan menghubungkan end carriage di kedua sisi. Girder dapat menggunakan berbagai structural configuration sesuai engineering dan manufacturer.
Hoist
Hoist menjalankan fungsi lifting dan lowering. Pada industrial overhead crane, electric wire rope hoist banyak digunakan untuk general material handling. Capacity, lifting height, speed, reeving, motor, brake, dan working duty perlu disesuaikan dengan application.
Trolley
Trolley membawa hoisting mechanism untuk bergerak melintasi bridge. Double girder crane umumnya menggunakan trolley arrangement yang lebih terintegrasi pada dua main girder. Pada single girder tertentu, hoist dapat menggunakan travelling mechanism langsung pada bagian bawah girder.
End Carriage
End carriage berada pada kedua sisi bridge dan menghubungkan main girder dengan travel wheel. Komponen ini membantu bridge melakukan long travel sepanjang runway. Wheel arrangement akan memengaruhi bagaimana load didistribusikan menuju runway.
Electrical dan Control System
Electrical system mengatur motor hoist, trolley, bridge travel, brake, limit switch, protection, dan control. Pendant maupun wireless remote dapat digunakan sesuai model dan operating requirement. VFD juga dapat digunakan pada motion tertentu untuk memberikan acceleration, deceleration, dan speed control yang lebih halus.
Safety Device
Safety device dapat mencakup overload protection, travel limit switch, lifting height limit, emergency stop, dan perangkat lain sesuai model serta configuration. Anti-collision dapat digunakan apabila terdapat beberapa crane pada runway yang sama atau operating requirement membutuhkannya. Fitur aktual tetap harus mengacu pada specification unit yang dipilih.
Bagaimana Capacity dan Span Memengaruhi Girder?
Capacity dan span merupakan dua parameter utama yang sangat memengaruhi desain girder. Crane 5 ton dengan span 6 meter mempunyai structural requirement berbeda dari crane 5 ton dengan span 25 meter. Walaupun rated capacity-nya sama, panjang bridge menghasilkan kondisi bending dan stiffness yang berbeda.
Span adalah jarak antara runway rail, bukan sekadar lebar keseluruhan bangunan. Posisi column, runway beam, dan rail perlu diketahui sebelum girder dapat ditentukan secara akurat. Karena itu, pengukuran Span Overhead Crane sebaiknya mengacu pada posisi runway aktual.
Capacity yang meningkat juga dapat memengaruhi girder dimension, hoist atau trolley, wheel arrangement, dan wheel reaction. Namun hubungan tersebut tidak selalu linear karena crane configuration ikut berpengaruh. Engineering harus melihat seluruh sistem sebelum menentukan structural configuration.
Strength dan Deflection pada Main Girder
Main girder perlu mempunyai strength yang cukup untuk menerima load selama crane digunakan. Namun strength bukan satu-satunya parameter yang diperhatikan dalam design. Girder juga membutuhkan stiffness agar deflection tetap berada dalam batas yang ditentukan oleh applicable design requirement.
Deflection adalah perubahan posisi girder ketika menerima load. Sedikit deflection merupakan perilaku normal pada struktur, tetapi nilai yang diperbolehkan harus mengikuti design code, crane class, span, configuration, dan specification proyek. Karena itu, angka batas deflection tidak sebaiknya disamaratakan tanpa mengetahui basis desain.
Pengendalian deflection juga berkaitan dengan performa trolley dan bridge. Jika struktur mengalami kondisi yang tidak sesuai desain, alignment dan travel behaviour dapat ikut terpengaruh. Itulah sebabnya structural design crane perlu mempertimbangkan strength dan serviceability secara bersamaan.
Lifting Height, Headroom dan Hook Approach
Girder configuration mempunyai hubungan langsung dengan ruang vertikal yang tersedia. Lifting height menunjukkan vertical travel hook, sedangkan headroom menggambarkan ruang yang digunakan crane dan hoisting mechanism di bagian atas area kerja. Kedua parameter tersebut tidak boleh disamakan.
Pada existing workshop atau warehouse, headroom sering menjadi constraint karena roof dan runway sudah berada pada elevasi tertentu. Jika hoisting system menggunakan terlalu banyak ruang di atas, hook highest position dapat menjadi lebih rendah dari kebutuhan. Compact atau low-headroom configuration dapat dipertimbangkan ketika ruang vertikal terbatas.
Hook approach menunjukkan seberapa dekat hook dapat bergerak menuju sisi atau ujung working area. Hoist, trolley, dan end carriage mempunyai physical dimension yang menciptakan area yang tidak dapat dijangkau hook sepenuhnya. Parameter ini penting ketika machine, maintenance bay, atau storage berada dekat column atau wall.
Working Duty pada Girder Hoist Crane
Working duty menjelaskan intensitas penggunaan crane, bukan kapasitas maksimumnya. Crane 10 ton yang hanya digunakan beberapa kali dalam satu hari mempunyai operating condition berbeda dari crane 10 ton yang melakukan lifting berulang sepanjang shift. Karena itu, rated capacity dan working duty harus dianalisis sebagai dua parameter yang berbeda.
Data seperti operating hours, lifts per hour, rata-rata load, dan frequency of maximum load membantu menentukan duty yang sesuai. Informasi tersebut kemudian memengaruhi pemilihan hoist, motor, brake, gearbox, travel drive, dan mechanical component lainnya. Industri tempat crane digunakan hanya memberikan konteks dan tidak otomatis menentukan work class.
Pembahasan mengenai classification dapat dilihat lebih lengkap pada Overhead Crane Duty Classification. Penentuan duty sebaiknya dilakukan berdasarkan actual operating profile, bukan hanya menggunakan istilah seperti “dipakai setiap hari” atau “heavy duty”.
Hubungan Girder dengan Wheel Load dan Runway
Load dari main girder diteruskan melalui end carriage menuju crane wheel dan kemudian masuk ke runway. Karena itu, maximum wheel load tidak sama dengan rated lifting capacity crane. Bridge self-weight, hoist atau trolley weight, lifted load, posisi trolley, serta wheel arrangement semuanya ikut memengaruhi wheel reaction.
Ketika trolley mendekati salah satu sisi bridge, reaction pada runway di sisi tersebut dapat meningkat. Kondisi ini menjadi penting ketika crane akan dipasang pada existing building. Runway lama yang pernah digunakan crane dengan kapasitas sama belum tentu otomatis cocok untuk crane baru.
Girder, wheel arrangement, runway beam, rail, column, connection, dan foundation perlu dianalisis sebagai satu sistem. Parameter tersebut idealnya dibahas sejak proses Overhead Crane Engineering agar specification crane sesuai dengan supporting structure yang tersedia.
Top Running dan Underhung Bukan Posisi Hoist
Istilah top running sering salah dipahami sebagai hoist yang berjalan di atas girder. Padahal top running mengacu pada bridge atau end truck yang berjalan di atas runway rail. Posisi hoist terhadap girder merupakan hal yang berbeda.
Pada Top Running Single Girder Crane, bridge berada di atas runway rail sementara hoist dapat tetap bergerak pada bagian bawah single girder sesuai configuration. Jadi sebuah crane dapat sekaligus menggunakan top-running bridge dan underhung hoist. Kedua istilah menjelaskan hubungan komponen yang berbeda.
Underhung atau under-running crane sendiri biasanya mengacu pada bridge yang berjalan pada bagian bawah runway structure. Sistem tersebut dapat relevan ketika kondisi bangunan tidak memungkinkan top-running runway. Pemilihan configuration perlu mengikuti struktur bangunan dan coverage yang dibutuhkan.
Girder pada Overhead Crane dan Gantry Crane
Girder tidak hanya digunakan pada overhead crane. Gantry crane juga mempunyai main girder sebagai bridge, tetapi bridge tersebut ditopang oleh leg dan bergerak menggunakan rail atau travel system pada level bawah. Karena itu, basic load path-nya mempunyai konsep yang mirip meskipun support structure berbeda.
Overhead crane lebih umum digunakan di dalam workshop, warehouse, atau bangunan industri dengan runway. Gantry crane dapat digunakan pada fabrication yard, storage area, maupun lokasi outdoor yang tidak mempunyai building runway. Single dan double girder dapat ditemukan pada kedua jenis crane tersebut tergantung requirement.
Environmental condition menjadi lebih penting pada gantry crane outdoor. Wind, rain, corrosion, rail condition, dan ground support perlu diperhitungkan dalam engineering. Karena itu, girder configuration tidak dapat dipindahkan begitu saja dari indoor overhead crane ke outdoor gantry tanpa evaluasi.
Pilihan Girder Hoist Crane Tavol
PT Jaya Karya Makassar menyediakan overhead crane Tavol dengan pilihan Universal dan European Model. Konfigurasi dapat menggunakan single maupun double girder sesuai capacity, span, lifting height, duty, dan kondisi bangunan. Technical specification final tetap mengikuti model dan configuration proyek.
LD Universal Single Girder
LD Universal merupakan single girder overhead crane dengan box-type main girder dan electric wire rope hoist pada konfigurasi manufacturer. Model ini dapat digunakan untuk berbagai general industrial lifting seperti workshop, warehouse, dan fasilitas produksi. Capacity, span, lifting height, dan parameter lainnya tetap perlu dipilih sesuai technical data model yang digunakan.
Universal configuration dapat menjadi pilihan ketika dimensional requirement dan operating duty masih sesuai. Struktur yang relatif straightforward membuat model ini relevan untuk banyak general material handling application. Namun existing runway tetap harus diverifikasi terhadap actual wheel load crane.
LE European Single Girder
LE European Single Girder menggunakan desain yang lebih compact pada family produknya dan ditujukan untuk berbagai industrial lifting application. Pada konfigurasi European, low-headroom arrangement dan variable-speed control dapat menjadi pertimbangan ketika ruang vertikal atau kebutuhan positioning lebih penting. Detail fitur tetap perlu mengikuti datasheet dan quotation model aktual.
Model seperti ini dapat dipertimbangkan pada workshop atau warehouse yang mempunyai roof clearance terbatas. Compact dimension dapat membantu meningkatkan usable hook height dalam kondisi tertentu. Namun keputusan tetap perlu menggunakan actual dimensional drawing.
LH Double Girder
LH merupakan salah satu Universal Double Girder overhead crane Tavol. Family model tersebut tersedia dalam beberapa capacity dan menggunakan double main girder untuk membawa trolley hoist. Konfigurasi ini dapat digunakan ketika proyek membutuhkan trolley arrangement, duty, span, atau lifting requirement yang lebih sesuai dengan double girder.
Pada double girder, trolley bergerak di sepanjang bridge dan load kemudian diteruskan ke dua main girder. Konfigurasi tersebut menghasilkan structural dan wheel load arrangement berbeda dari single girder. Karena itu, runway verification tetap menjadi bagian penting dari engineering.
Untuk pembahasan yang lebih spesifik mengenai konfigurasi dua girder, lihat Overhead Crane Double Girder
Jenis Hoist Crane yang Ditawarkan PT Jaya Karya Makassar
Sebagai distributor resmi merek Tavol sejak 2015, kami menawarkan tiga jenis hoist crane. Masing-masing jenis memiliki karakteristik serta keunggulan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan industri. Pemilihan crane yang tepat akan sangat memengaruhi kelancaran proses kerja di lapangan.
1. Overhead Crane

Jenis crane yang paling umum digunakan di industri manufaktur maupun perakitan. Crane ini menggunakan lintasan girder yang terpasang di atas bangunan, sehingga memudahkan pergerakan beban dari satu titik ke titik lain tanpa mengganggu aktivitas di bawahnya. Produk Tavol yang ditawarkan PT Jaya Karya Makassar sangat cocok untuk kebutuhan produksi massal, karena girder hoist cranenya dirancang untuk beban berat dengan frekuensi kerja tinggi.
2. Gantry Crane

Dikenal dengan desainnya yang menggunakan dua kaki penopang besar. Struktur ini menjadikan crane mampu berdiri sendiri tanpa membutuhkan dukungan bangunan. PT Jaya Karya Makassar menyediakan gantry crane merek Tavol yang dapat digunakan untuk mengangkat kontainer di pelabuhan, material di proyek konstruksi besar, maupun peralatan berat di area terbuka. Dengan girder hoist crane yang berkualitas, crane ini membuat pekerjaan dalam skala besar lebih cepat selesai.
Baca juga: Cara Kerja Crane dengan Sistem Hoist
Jenis Girder Hoist Crane dari PT Jaya Karya Makassar
Dalam katalog produk kami, tidak semua jenis hoist crane memanfaatkan struktur girder sebagai lintasan utama. Beberapa model, seperti jib crane lebih mengandalkan lengan penopang, sementara tipe lain seperti gantry crane dan overhead crane menggunakan girder untuk mendukung pergerakan hoist.
Agar lebih mudah dipahami, berikut ini tabel yang menunjukkan model-model yang termasuk kategori single girder maupun double girder.
| Jenis Hoist Crane | Single Girder | Double Girder |
| Gantry Crane | – BMH Model Gantry Crane Electrical Semi Girder – Gantry Crane Hand Push Mini with Electric Chain Hoist – MH Model Single Girder Gantry Crane with Low Room Lifting Hoist – MH Universal Model Gantry Crane Single Girder with Monorail Wire Rope Hoist | – BMG Model Gantry Crane Electrical Double Semi Girder – Double Girder Gantry Crane with FEM MHS Model (Euro Design) – Heavy Duty Double Girder Gantry Cranes with Open Winch SWL (up to 200 tons) |
| Overhead Crane | – Overhead Crane Single Girder Universal Model – Overhead Crane Single Girder with Electric Hoist (Euro Design) – Overhead Crane Underhang Running Electric with Rope Hoist (Euro Design) – Overhead Travelling Crane with Remote Control (Euro Design) | Overhead Crane LH Model Double Beam Bridge |
Baca juga: Keunggulan Monorail Hoist crane
Apa yang Perlu Diperiksa pada Girder?
Girder merupakan structural component sehingga kondisinya perlu menjadi bagian dari inspection crane. Pemeriksaan dapat mencakup kondisi visual girder, connection, weld area, coating, corrosion, serta tanda impact atau deformation yang tidak normal. Area interface dengan end carriage juga perlu diperhatikan.
Pada double girder, trolley rail dan area supporting trolley menjadi bagian yang relevan untuk diperiksa sesuai configuration. Abnormal travel, skewing, unusual noise, atau uneven wheel wear juga dapat menjadi indikasi bahwa sistem bridge dan runway perlu dievaluasi lebih lanjut. Kondisi tersebut tidak sebaiknya langsung disimpulkan sebagai kerusakan girder tanpa pemeriksaan teknis.
Structural repair juga tidak sebaiknya dilakukan berdasarkan trial-and-error. Welding tambahan, heating, atau modification pada main girder dapat memengaruhi struktur crane. Jika ditemukan kondisi tidak normal, evaluation sebaiknya dilakukan oleh personel yang kompeten sebelum crane kembali digunakan.
Pemeriksaan girder dapat dimasukkan ke dalam program Maintenance Overhead Crane bersama hoist, brake, wheel, electrical system, dan runway. Dengan dokumentasi yang baik, perubahan kondisi crane dapat dipantau dari waktu ke waktu.
Apa yang Menentukan Harga Girder Hoist Crane?
Harga girder hoist crane tidak hanya ditentukan oleh kapasitas. Crane 5 ton dengan span 8 meter dapat mempunyai harga berbeda dari crane 5 ton dengan span 25 meter karena kebutuhan girder dan bridge structure tidak sama. Lifting height, duty, hoist configuration, dan control juga ikut memengaruhi project scope.
Beberapa faktor utama yang memengaruhi harga antara lain:
| Faktor | Pengaruh |
|---|---|
| Capacity | Hoist, girder dan mechanical requirement |
| Span | Main girder dan bridge design |
| Single/Double Girder | Struktur dan trolley configuration |
| Lifting Height | Hoisting arrangement |
| Working Duty | Motor, brake, gearbox dan component selection |
| Universal/European | Configuration dan dimensional design |
| Travel Speed | Drive system |
| VFD | Electrical/control configuration |
| Wireless Remote | Control system |
| Runway | Structural scope |
| Supporting Structure | Column, beam dan foundation requirement |
| Installation | Erection, alignment dan electrical work |
| Delivery | Lokasi proyek |
Karena itu, membandingkan harga hanya berdasarkan “crane 10 ton” dapat menyesatkan. Dua quotation dengan capacity yang sama dapat mempunyai span, duty, hoist model, maupun structural scope yang berbeda. Technical specification perlu dibandingkan terlebih dahulu sebelum harga dinilai.
Data yang Dibutuhkan untuk Technical Quotation
Technical quotation akan lebih akurat jika data operasional dan bangunan sudah tersedia. Buyer tidak perlu menentukan semua detail engineering sendiri, tetapi maximum load, area kerja, dan penggunaan crane perlu dijelaskan. Informasi yang tidak tersedia dapat kemudian diverifikasi melalui survey.
| Data | Informasi yang Dibutuhkan |
|---|---|
| Maximum Load | Berat material maksimum |
| Lifting Accessories | Sling, spreader, lifting beam |
| Span | Jarak runway rail |
| Lifting Height | Vertical hook travel |
| Runway Length | Panjang crane travel |
| Working Hours | Jam penggunaan per hari |
| Lifting Frequency | Lifting per jam/hari |
| Average Load | Beban rata-rata |
| Existing Runway | Ada / belum |
| Headroom | Clearance di atas runway |
| Environment | Indoor / outdoor / dusty / corrosive |
| Power Supply | Voltage dan frequency |
| Control | Pendant / wireless remote |
| Lokasi Proyek | Kota/provinsi |
| Drawing | Layout dan structural drawing jika ada |
Foto area juga dapat membantu memahami kondisi roof, column, runway, machine, dan obstacle. Existing crane datasheet dapat diberikan jika unit baru akan menggantikan crane lama. Namun kapasitas crane lama tetap tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa wheel load unit baru akan sama.
Jika proyek sudah masuk tahap installation, pembahasan mengenai persiapan runway, erection, electrical, dan testing dapat dilihat pada Jasa Instalasi Overhead Crane.
Hubungi PT Jaya Karya Makassar Sekarang!
Jika Anda sedang mencari alat angkat dengan komponen girder hoist crane berkualitas tinggi dan harganya terjangkau, jawabannya adalah PT Jaya Karya Makassar. Kami siap membantu mulai dari konsultasi online gratis, pengiriman produk dengan keamanan tinggi, layanan pemasangan, sampai layanan purna jual dengan ketersediaan suku cadang. Lihat testimoni klien kami sebelumnya di website jayakaryamakassar.co.id, dan dapatkan informasi mengenai harga hoist crane termurah dengan klik tombol di bawah ini!

Pingback: Girder Overhead Crane: Perbedaan Single Girder & Double Girder
Pingback: Apa Itu Overhead Crane Support Structure? Kenapa Penting?
Pingback: Overhead Crane with Cabin - Pengertian & Fungsinya
Pingback: Material Girder Overhead Crane: Jenis Baja & Cara Memilih